Kemandirian

Kemandirian adalah kemampuan untuk melakukan kegiatan atau tugas sehari-hari sendiri atau dengan sedikit bimbingan, sesuai dengan tahapan perkembangan dan kapasitasnya. Kemandirian adalah sifat asli manusia dan merupakan suatu sifat yang menjurus pada usaha manusia untuk mengerjakan semua yang ingin dilakukannya sendirian.

Pada anak-anak, sifat kemandirian ini sudah mulai terlihat, seperti saat anak tidak ingin dipegang saat menyeberang jalan, atau pada saat anak ingin bermain sendiri.

Rasa kemandirian ini ada baiknya dilatih, agar suatu saat nanti anak memiliki kemampuan dan tanggung jawab yang besar saat bekerja. Pendidikan kemandirian sebaiknya ditanamkan sejak kecil, karena dengan begitu anak akan terbiasa bersikap mandiri.

Apa yang dapat dilatih dalam meningkatkan kemandirian anak?

a)    Melatih anak berani berjalan sendiri tanpa ditemani, dan atau orang tua melihat dari jauh.

b)    Membiasakan anak mempunyai catatan, atau hapal alamat dan nomor telepon yang mudah dihubungi

c)    Melatih anak mengenal lingkungan tempat tinggal

d)    Melatih anak agar tak mudah mempercayai orang yang baru dikenal.

e)    Melatih anak mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR)

Pendidikan kemandirian saat remaja, biasanya diberikan dengan cara mengajari anak melakukan semua kegiatan rumah tangga, menargetkan prestasi belajar anak, dan memperluas pergaulan anak dengan memberikan les, disamping juga agar anak menjadi lebih pintar.

Remaja khususnya pelajar memiliki beberapa tipe, dan biasanya beberapa guru melakukan cara yang salah dalam menghadapi anak. Berikut beberapa tipe pelajar yang saya ambil dari internet:

  1. Pelajar dengan kemandirian rendah. Pelajar dengan kemandirian rendah cenderung memerlukan bimbingan dan arahan dari gurunya. Peran guru di sini sebagai ahli yang bertujuan untuk meningkatkan kontrol pelajar tehadap pelajarannya.
  2. Pelajar dengan kemandirian sedang. Pelajar tipe ini merupakan pelajar yang memiliki motivasi. Peran guru di sini adalah sebagai motivator yang memberikan penjelasan yang jelas mengenai pentingnya hal-hal yang dipelajari untuk kehidupan pelajar.
  3. Pelajar dengan kemandirian Intermediat. Pelajar telah memiliki pengetahuan dan keterampilan awal untuk mempelajari suatu hal. Peran guru disini adalah sebagai fasilitator yang berbagi pendapat dengan pelajar, dan memberi kesempatan pelajar untuk meningkatkan kemampuan belajarnya.
  4. Pelajar dengan kemandirian tinggi. Pelajar tipe ini mampu menyusun tujuan dan standar belajar tanpa bantuan ahli untuk meraih tujuannya. Peran guru di sini sebagai konsultan/delegasi.

Pada saat anak sudah dewasa, anak tidak diajari kemandirian lagi, melainkan mempergunakannya. Pada saat ini, anak sudah dituntut dapat bekerja keras, ulet, tekun, dan tentu saja mandiri. Terlebih lagi jika menjadi bos/manajer, anak harus dapat bekerja lebih keras hingga dua kali lipat dari pekerja biasa. Anak juga harus dapat bertanggung jawab pada keluarga, dalam artian dapat mengurus anak, mengurus rumah, keuangan keluarga, dan lain-lain.

Pada beberapa kasus, anak yang tidak biasa hidup mandiri akan menemukan banyak rintangan dalam hidupnya. Biasanya anak seperti ini sering minder, malu-malu, kurang berusaha, dan kurang disiplin. Dan hal ini dapat mengancam kehidupan anak saat dewasa, dimana semua kekurangan di atas tidak boleh ada untuk menunjang produktivitas kerja (kecuali jika tidak bekerja/pengangguran).

Sebaliknya pada anak yang terbiasa hidup mandiri, dia akan lebih percaya diri, lebih berusaha, lebih disiplin, dan dapat mengerjakan banyak hal. Tentu anak seperti ini akan lebih disenangi masyarakat daripada anak yang minder, pemalu, dan kurang mandiri.

Ada kalanya kemandirian anak justru ditujukan pada hal-hal yang salah, seperti misalnya anak yang sering bolos, anak yang terlalu sering bermain (PS atau permainan lainnya), anak yang sompong, dan lain-lain. Untuk menghindari hal-hal tersebut, ada baiknya mempelajari Budi Pekerti, agar kita menjadi lebih mandiri pada hal-hal yang benar, lebih percaya diri, dan sukses suatu saat nanti.

About these ads
Categories: Sosial | Tinggalkan komentar

Navigasi tulisan

Tulis komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog pada WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.333 pengikut lainnya.