Ditemukan Galaksi Tertua di Alam Semesta

Kandidat galaksi tertua yang dipotret Hubble. Kredit : NASA/ESA/Garth Illingworth (UCSC)

Sebelumnya telah diklaim bahwa galaksi terjauh yang ditemukan memiliki pergeseran merah 8,6 dan berusia 600 juta tahun semenjak terjadinya Dentuman Besar. Kali ini ada sebuah galaksi lainnya yang lebih tua dan memiliki pergeseran merah lebih besar yang berhasil dilihat Teleskop Hubble.

Obyek redup yang ternyata merupakan galaksi dengan bintang-bintang biru tersebut berada pada jarak 13,2 milyar tahun cahaya dari Bumi dan memiliki pergeseran merah 10,3. Dengan demikian ketika manusia pertama kali melihat cahayanya si obyek ini diperkirakan berusia 480 juta tahun semenjak terjadinya Dentuman Besar. Atau sekitar 150 juta tahun lebih tua dari galaksi tertua sebelumya.  Penemuan ini menunjukkan kalau gambaran alam semesta saat muda jauh lebih kosong dari yang diperkirakan sebelumnya.

Galaksi Tertua

Galaksi yang tampak hanya sendirian tersebut dilihat oleh Hubble Ultra Deep FIeld, pencitraan infra merah dari langit malam yang terdiri dari obyek – obyek paling redup dan paling jauh yang bisa dipotret sampai saat ini.

Dalam penelitian ini, Rychard Bouwens dari Universitas Leiden bersama rekan-rekannya menentukan jarak si galaksi dengan menggunakan pengukuran redshift atau pergeseran merah. Saat alam semesta mengembang dan obyek di dalamnya bergerak menjauh, pengamat mengamati cahaya dari sumber yang sangat jauh yang terentang lebih panjang dari panjang gelombang yang seharusnya dan menuju arah merah dari spektrum elektromagnetik.

Tim ini mencari obyek yang cahayanya sudah mengalami pergeseran merah yang artinya sudah tidak berada dalam panjang gelombang optik di spektrum dan berada pada panjang gelombang infra merah. Galaksi purba yang ditemukan ini berada sangat terpencil dan cahayanya hanya bisa terdeteksi pada panjang gelombang inframerah terpanjang yang bisa dilihat Hubble.

Karena jaraknya yang jauh, informasi yang diterima oleh pengamat berasal dari keberadaannya di masa awal alam semesta atau sekitar 480 juta tahun setelah Dentuman Besar. Periode ini berada pada batas kemampuan pengamatan Hubble, namun pemodelan yang dilakukan menunjukkan teleskop Hubble seharusnya masih bisa mendeteksi beberapa galaksi lagi dari periode waktu yang sama dan bukan hanya satu galaksi.

Kondisi yang hampir mandul pada epos tersebut jelas sekali bertolak belakang dengan periode 650 juta tahun setelah Dentuman Besar, dimana tim peneliti sudah berhasil menemukan sekitar 60 galaksi.

Obyek yang dilihat Hubble tampak sebagai titik redup. Ia tampak terlalu muda dan terlalu kecil untuk memiliki bentuk spiral yang umumnya menjadi karakteristik sebuah galaksi dalam alam semesta lokal. Meskipun Hubble tidak dapat melihat bintang-bintang di dalamnya, bukti yang ada jelas menujukkan kalau obyek ini merupakan galaksi kompak dengan bintang panas yang terbentuk lebih dari 100 – 200 juta tahun sebelumnya dari gas yang terperangkap dalam kantung materi gelap.

Obyek yang juga galaksi di masa awal setelah alam semesta terbentuk, tampak sebagai gumpalan merah redup dalam pemotretan ultra deep field. Kredit: NASA, ESA, G. Illingworth (University of California, Santa Cruz), R. Bouwens (University of California, Santa Cruz, & Leiden University), dan tim HUDF09

Hasil penglihatan Hubble sekaligus menunjukkan dalam kurun waktu kurang dari 200 juta tahun dengan satu kedipan mata kosmik, galaksi-galaksi besar terbentuk dengan cepat dari beberapa galaksi kecil. Laju pembentukan bintang juga meningkat sepuluh kali lipat. Jelas ini adalah sebuah perubahan yang sangat dramatis yang mengambil alih keadaan pada periode itu.

Satu hal yang menjadi tanda tanya adalah kurangnya galaksi di periode itu. Pada kisaran periode tersebut, radiasi ultraungu memisahkan banyak sekali hidrogen netral di alam semesta menjadi komponen penyusunnya yakni proton dan elektron. Sebuah proses yang dikenal sebagai reionisasi. Jika ini tidak terjadi, maka kita akan melihat lebih sedikit di alam semesta dari yang bisa kita tangkap saat ini. Hal ini disebabkan oleh hidrogen netral sangat efektif dalam menyerap cahaya pada berbagai panjang gelombang.

Menurut Garth Illingworth dari University of California, Santa Cruz yang juga bagian dari tim peneliti, “jika penemuan tim ini benar, maka tentunya tidak ada cukup banyak bintang disekitarnya yang bisa digunakan untuk membangkitkan keadaan ke tingkat radiasi ultraungu  yang dibutuhkan untuk reionisasi”.  Sumber lainnya seperti active galactic nuclei atau sebuah area  kompak di pusat galaksi yang bersinar sangat terang di sebagian atau di seluruh area spektrum elektromagnetik bisa jadi ikut menyediakan radiasi ekstra.  Yang  jadi masalah, active galactic nuclei atau AGN ini menerima energi dari lubang hitam supermasif yang diperkirakan belum memiliki waktu yang cukup untuk terbentuk pada era tersebut.

Yang jelas, penemuan yang dibuat Hubble ini sangat menarik namun dibutuhkan pengamatan lanjutan yang akan bisa membawa astronom pada temuan baru yang mungkin menjadi jawaban atas pertanyaan seperti apa kondisi awal alam semesta. Dan misi ini akan dilanjutkan oleh James Webb Space Telescope.

Rychard Bouwens  juga berharap JWST (James Webb Space Telescope) dapat memberi jawaban sekaligus memberi informasi yang dapat menjelaskan ketidaksesuaian yang diperoleh saat ini.  Akan ada lebih banyak data karena ini bukanlah sebuah hasil akhir.

About these ads

Kaitkata:, , ,

Tentang Ari Sudewa

Saya orangnya supel, dan simpel. Saya ingin menyebarluaskan pengetahuan kepada dunia lewat blog ini, jadi mohon bantuannya ya... :D

3 Responses to “Ditemukan Galaksi Tertua di Alam Semesta”

  1. andre wahyudi says :

    kadang ada yang mengganggu pemikiran saya…
    galaksi dan bintang lain dalam galaksi letaknya jauh hingga jutaan tahun cahaya….
    1. apa yang terjadi bila kita datang terlambat ke suatu acara…. acaranya sdh selesai….. (cahaya yang kita terima hari ini dari galaxi lain bisa jadi disana sdh kiamat….)
    2. bukanya mau musrik atau syirik Nauzubillah…..mungkinkah surga yang dijanjikan Allah adalah planet lain di galaksi lain yang kehidupannya bau akan dimulai. karena alam semesta mengembang luas bukan menciut/mengkerut

    4 Juni 2011 23:09

    • Ari Sudewa says :

      wah pemikirannya sama kayak saya!
      1. itu betul sekali. karena butuh jutaan tahun untuk mencapai bumi, maka saat cahayanya bintang kita lihat (cahayanya sampai di bumi) bisa jadi di sana saat ini bintang itu sudah tidak ada. karena itu bisa dikatakan dikatakan melihat ke luar angkasa adalah melihat ke masa lalu. berdasarkan hal itu, obyek terjauh yang bisa kita lihat adalah ledakan kosmik (big bang).
      2. anggapan itu tidak salah, karena pada konsepnya surga adalah tempat yang memberikan kebahagiaan lahir batin. karena itu jika kita merasa bahagia di bumi, kita bisa menganggap bumi adalah surga! jika di masa depan kita tinggal di planet lain yang membahagiakan maka bisa dibilang itulah surga kita. yah memang surga fisik sih. tapi siapa yang tahu wujud surga sebenarnya?

Trackbacks / Pingbacks

  1. Ditemukan Galaksi dari Masa Alam Semesta Dini « ARISUDEV - 16 April 2011

Ayo Berkomentar!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.929 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: